Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Candi Borobudur, Sejarah Serta Fakta Menarik Di Balik Kemegahannya

Candi Borobudur
Foto: Jowonews.com


Indonesia harus bangga karena memiliki Candi Borobudur. Candi ini kaya akan sejarah dan juga memiliki pesona keindahan arsitektur khas bergaya candi Buddha. 

Candi ini didirikan di masa pemerintahan Dinasti Syailendra pada Kerajaan Mataram Kuno dan merupakan situs arkeologi candi Buddha paling besar di dunia.

Megahnya bangunan arsitektur candi ini tidak pernah gagal dalam membuat wisatawan menjadi terpesona. Bisa dikatakan bahwa Borobudur ini menjadi salah satu wisatawan yang tidak terlewatkan jika berkunjung ke Magelang Jawa Tengah. 

Candi satu ini juga diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Sampai saat ini Candi Borobudur berdiri dengan megah mampu menarik banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Sejarah Candi Borobodur

Dinasti Syailendra ini membangun peninggalan Budha paling besar di dunia antara 780 sampai dengan 840 Masehi. Dinasti Syailendra merupakan dinasti yang paling berkuasa di masa tersebut. Peninggalannya dibangun sebagai tempat untuk pemujaan Budha dan juga tempat untuk ziarah. 

Candi Borobudur merupakan candi budha yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra. Setelah itu diselesaikan oleh putrinya bernama Ratu Pramudawardhani pada abad ke-9.  Pembangunan candi ini terjadi di abad ke-8 dan 9 atau sekitar tahun 800 masehi pada masa pemerintahan dinasti Syailendra. 

Candi Borobudur terletak di Magelang Jawa Tengah. Tepatnya lokasinya ada di Jalan Badrawati Kecamatan Borobudur Magelang Jawa Tengah.

Tempat ini berisi petunjuk supaya manusia bisa menjauhkan diri dari nafsu dunia. Selain itu juga menuju pencerahan dan juga kebijaksanaan menurut Buddha. Peninggalan ini ditemukan oleh Inggris tepatnya pada tahun 1814 dimana dibawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles. Area candi ini berhasil dibersihkan keseluruhan di tahun 1853.

Borobudur dibangun dengan menggunakan gaya Mandala yang mana menjadi cerita alam semesta atas kepercayaan Buddha. Struktur bangunan dari candi ini bentuknya kotak. Di candi terdapat empat pintu masuk dan titik pusat yang bentuknya adalah lingkaran. Saat dilihat dari luar sampai ke dalam candi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu alam dunia yang mana terbagi jadi tiga zona pada bagian luar. Selain itu juga ada alam nirwana yang mana menjadi bagian pusat. 

Penemuan dan Restorasi Candi Borobudur



Reruntuhan candi ini ditemukan pada tahun 1814. Saat itu Inggris menguasai Jawa dan dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Pemugaran pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang memimpinnya adalah Theodore van Erp pada tahun 1907 sampai 1911. 

Restorasi candi dilakukan tahun 1973 – 1983, prosesnya meninggalkan arsip berisi informasi penting.  Dalam proses restorasinya, meninggalkan dokumen yang berisi informasi penting tentang sejarah pelestarian Candi Borobudur. Arsip restorasi candi di Magelang Jawa Tengah yang masih ada sampai saat ini perlu dijaga agar tetap utuh.

Arsip tersebut merupakan dokumentasi lengkap yang mana mengandung nilai sejarah yang tinggi. Yang perlu dikonfirmasi secara luas dan bertahap kepada masyarakat sehingga pengetahuan masyarakat tentang tempat umat suci Buddha semakin bertambah.

Arsip ini pernah dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta. Sebagian pengunjung masih memahami bahwa candi tersebut dibangun pertama kali dalam kondisi atau keadaan yang utuh. Pameran memberikan pemahaman bahwa dibutuhkan kerja keras dalam merestorasi candi yang ditemukan di tahun 1814 tersebut.

Arsip, foto, gambar, film dan juga benda lainnya yang berhubungan dengan renovasi Borobudur ini dipamerkan ke dalam empat ruangan di Museum Nasional. Untuk penemuan candi yang ditemukan oleh Raffles ini bisa dilihat pada ruang pertama. Ruangan kedua ini memajang bukti pemugaran kedua yang dilakukan pada 1973-1983. 

Ada juga beberapa foto pemugaran pertama yang mana dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang mana dilakukan oleh Theodore van Erp. Di ruangan lain ini akan ada sketsa lukisan pertama Borobudur. Sketsa tersebut dicetak ke dalam buku Boroboedoer, Het Eiland Java karya FC Wilsen, JFG Brumund dan C Leemans di tahun 1873.  Pengunjung juga bisa menyaksikan film dokumenter restorasi Candi Borobudur terutama pasca letusan Gunung Merapi pada tahun 2010. 

Bentuk Candi Borobudur

Candi panjangnya 12,66 meter dan lebar 121,38 meter. Tinggi candi adalah 35,40 meter. Susunan bangunan candi berupa 9 teras berundak dan juga stupa pada induk puncak. Ada 6 teras dengan denah persegi dan 3 teras dengan denah lingkaran.  Batunya berasal dari sungai di sekitar Borobudur jika dijumlah kurang lebih ada 2 juta potong batu.

Pada dasarnya Borobudur merupakan bangunan asli Indonesia berupa punden berundak.  Dari segi bentuk dan juga fungsinya ini bangunan Candi Borobudur hakikatnya adalah bangunan stupa yang mana merupakan bangunan suci agama Buddha. Bentuknya seperti kubah separuh bola yang berdiri di atas lapik dan diatasnya diberi payung.

Stupa dari Candi Borobudur ini memang sekilas memiliki perkembangan arsitektur kemudian dikombinasikan dengan bangunan suci Indonesia pra hindu yang mana disebut dengan punden berundak. 

Punden berundak adalah bangunan sederhana segi empat berundak-undak atau bertingkat-tingkat. Oleh sebab itu stupa Borobudur ini memiliki bentuk yang khas dan tidak ada duanya di negara Buddha manapun. Enam tingkat pada bagian bawah bentuknya adalah bujur sangkar dimana kedua sisinya ini dibuat berliku kemudian ada tonjolan-tonjolan sudut sehingga akan memberikan kesan bangunan dan bersegi banyak. Tingkat-tingkatan bagian atas ini berbentuk lingkaran kemudian dihias dengan stupa.

Pada bagian tingkat atas ada stupa induk yang mana diameternya 9,90 meter dan tingginya adalah 7 meter. Stupa induk ini memiliki fungsi sebagai pusat dan juga puncak bangunan Borobudur yang mana menjadi tingkat ke-10. Berdasarkan jumlah tingkatannya yang kesepuluh Dr. J.G Casparis sejarawan Belanda pada 1950 mengatakan bahwa Borobudur ini adalah gambaran visual filsafat dalam agama Buddha.

Setiap tingkatan yang ada di Borobudur ini menggambarkan tahapan kehidupan manusia. Di dalam mazhab Buddha disebutkan jika setiap orang ingin mencapai tingkat atas harus bisa melalui setiap tingkatan kehidupan.

Relief Candi Borobudur

Pada candi ini akan ditemukan relief yang sangat indah dimana menggambarkan kehidupan sang Buddha Gautama. Selain itu ada juga relief yang menggambarkan suasana alam yang permai, perahu bercadik, bangunan tradisional nusantara dan masih banyak yang lainnya.

Borobudur ini diyakini memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan juga terbanyak di dunia. Relief tersebut hampir di semua tingkatan dinding candi kecuali yang arupadhatu. Pahatan relief Borobudur ini masuk ke dalam dan menjadi jenis seni rupa murni yang mana artinya tercipta untuk dinikmati keindahan dan juga keunikannya saja.

Relief Candi Borobudur terdapat 2.672 panel. Relief dalam panel terbagi menjadi dua yaitu naratif dan juga dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif ini tersusun dalam sebelas baris yang mana masih mengelilingi monumen total panjangnya ini lebih dari 3.000 meter. Dalam 1.212 panel dekoratif ini tersusun dalam barisan namun dianggap sebagai relief individu. 

Relief tersebut dibaca sesuai dengan arah jarum jamnya atau dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan mapradaksina. Daksina ini artinya adalah timur. Oleh sebab itu pembacaan dan juga cerita relief akan dimulai dan juga berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkat.

Relief candi ini memiliki ceritanya masing-masing. Ada 4 cerita relief yang ada di candi Borobudur ini seperti Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka dan Awadana, yang terakhir adalah Gandawyuha. Karmawibhangga ini lokasi dan juga letaknya ada di Kamadhatu yang mana sebagian besar tertutup dengan batu. Relief ini menggambarkan hukum karma yang tidak terelakkan akibat merusak keindahan alam. 160 panel yang ada di Karmawibhangga ini tidak menampilkan cerita yang berkelanjutan.

Relief Lalitavistara ini menceritakan turunnya Buddha dari surga Tushita. Setelah itu diakhiri dengan khutbah pertama di Taman Rusa Benares. Relief itu yang menunjukkan kelahiran Buddha sebagai pangeran Siddhartha yaitu putra Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari Negeri Kapilavastu.

Cerita ini dimulai dengan 27 panel yang mana menunjukkan persiapan, baik itu di langit dan bumi kemudian menyambut inkarnasi terakhir dari Bodhisattva. Sebelum turun dari surga Tushita, Bodhisattva pun mempercayakan mahkota kepada pengganti yaitu calon Buddha Maitreya.

Jataka dan Awadana yaitu menceritakan Buddha sebelum lahir sebagai pangeran Siddharta. Isi relief adalah menceritakan tentang kehidupan Buddha di masa yang sebelumnya baik itu dalam bentuk manusia atau hewan. Buddha masa depan akan muncul sebagai seorang raja atau orang bujangan, dewa atau gajah. Namun di dalam bentuk apapun mereka akan menunjukkan beberapa kebajikan yang mana akan membedakan Buddha dengan makhluk yang lainnya.

Relief yang terakhir adalah Gandawyuha yang mana menceritakan pengembaraan tanpa lelah Sudhana untuk bisa mencari kebijaksanaan sejati. Cerita ini tertuang di dalam 460 panel yang mana terdapat di tingkat 3,4 dan juga setengah dari tingkat 2. 

Sudhana merupakan pedagang yang sangat kaya muncul di panel ke-16. 15 panel sebelumnya ini merupakan prolog dari kisah keajaiban Samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti. Selama pencarian Sudhana sudah mengunjungi kurang lebih 30 guru. Sayangnya tidak ada satupun yang benar-benar memuaskannya. Sudhana kemudian bertemu dengan biksu Megasari, darinya Sudhana mendapatkan pengetahuan pertama.

Fakta Menarik

Ada beberapa fakta menarik dari Borobudur satu ini yang belum banyak diketahui. Simak beberapa fakta Borobudur berikut ini:

Didirikan pada Dinasti Syailendra

Candi ini dibangun pada abad ke-8 dan 9 atau sekitar 800 tahun masehi pada pemerintahan Dinasti Syailendra yang menjadi penganut agama Buddha Mahayana.

Ukuran tapak candi sangat luas

Candi ini memiliki ukuran tapak candi yang sangat luas yaitu 123 x 123 meter persegi. Tinggi candi Borobudur adalah 35,40 meter yang terdiri dari 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan juga 1 stupa induk.

Ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles

Candi ini terkubur selama berabad-abad dan kemudian ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles saat berada di Pulau Jawa.  Saat itu ia sedang di Semarang kemudian mendapatkan informasi jika di daerah Kedu ini memiliki susunan batu yang bergambar dan kemudian dibersihkan. Saat ditemukan Candi ini kemudian diumumkan dan dikenalkan lewat buku.

Candi Borobudur menjadi tempat wisata menarik dan bersejarah yang tidak pernah lekang oleh zaman, daya tariknya masih besar hingga kini.



 

Posting Komentar untuk "Candi Borobudur, Sejarah Serta Fakta Menarik Di Balik Kemegahannya"